Minggu, 23 Januari 2011

Daftar Deleted Scenes & Featurette Dalam DVD Deathly Hallows: Part. I

British Board of Film Classification telah mengungkapkan Deleted Scenes dan Featurette tambahan untuk DVD Harry Potter and the Deathly Hallows: Part I, yang desebutkan dalam situs, dijadwalkan rilis pada 11 April 2011. Daftarnya dapat dilihat dibawah ini. Perhatikan bahwa waktu disebelah deskripsi adalah panjangnya klip (dalam menit dan detik).




Kamis, 20 Januari 2011

Novel: "Harry Potter 7 Epilog"


EPILOG: SEMBILAN BELAS TAHUN KEMUDIAN


Musim sepi kelihatannya tiba mendadak tahun itu. Pagi pertama bulan September 
terasa segar bagaikan apel, dan sementara keluarga kecil itu bergerak sepanjang 
jalan yang penuh suara gaduh menuju stasiun, asap kendaraan dan nafas para 
pejalan kaki mengambang bagaikan jaring laba-laba di udara dingin. Dua sangkar 
besar berderik-derik di bagian paling atas troli yang penuh muatan sementara 
kedua orangtua mendorongnya; burung hantu di dalamnya berkukuk marah, dan 
gadis berambut merah berjalan ketakutan di belakang saudara-saudara lakilakinya sambil memegang lengan ayahnya. 
“Tidak lama lagi, kau akan pergi juga”, kata Harry kepadanya. 
“Dua tahun”, dengus Lily, “Aku mau pergi sekarang!” 
“Orang-orang di stasiun itu menatap penasaran burung-burung hantu ketika 
keluarga itu bergerak menuju palang diantara peron 9 dan 10, suara Albus 
terdengar di telinga Harry mengatasi keramaian; putera-puteranya 
melanjutkan pertengkaran mereka yang tadi sudah di mulai di dalam mobil. 
“Nggak! Aku nggak mau jadi Slytherin!” 
“James, sudahlah!” kata Ginny. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 36"


BAB 36: KELEMAHAN DALAM RENCANA 


Dia kembali terbaring menghadap tanah. Bau hutan memenuhi lubang hidungnya. 
Dia bisa merasakan tanah keras dan dingin dibawah pipinya, dan gagang 
kacamatanya yang terhantam dari samping akibat jatuhnya mengiris pelipisnya. 
Seluruh tubuhnya gatal, dan bagian dimana Kutukan Pembunuh (Killing Curse) 
menghantamnya terasa seperti luka akibat tinju besi. Dia  tak bergerak tapi 
tetap berada di tempat dia jatuh, dengan kedua lengan tertekuk membentuk 
sudut aneh, dan mulut terbuka. 
Dia berharap mendengar sorak-sorai kemenangan dan kegembiraan atas 
kematiannya, namun yang terdengar memenuhi udara adalah langkah kaki yang
tergopoh-gopoh, bisik-bisik dan gumaman. 
“Tuanku…Tuanku…” 
Itu suara Bellatrix, dan suaranya seolah ditujukan buat seorang kekasih. Harry 
tak berani membuka mata tapi membiarkan indera lainnya mengenali situasi. 
Dia tahu tongkatnya masih terselip dibawah jubahnya karena bisa dirasakannya 
terjepit di antara tanah dan dadanya. Sedikit tekanan dibagian perutnya 
memberitahu bahwa Jubah Gaib masih ada di sana, tersembunyi dari 
pandangan. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 35"


BAB 35: KING’S CROSS 


Dia berbaring tertelungkup, mendengar kesunyian. Tak ada yang mengawasi. Tak 
ada orang lain di sana. Dia sendiri tak yakin berada dimana. 
Lama sesudahnya, atau tanpa ada jeda waktu sama sekali, timbul pikirannya 
bahwa dia pastilah ada, pastilah lebih dari sekadar pikiran tanpa tubuh, karena 
dia sedang berbaring, benar-benar sedang berbaring di atas permukaan 
sesuatu. Karenanya dia punya indera perasa, dan benda yang menahan 
tubuhnya tentunya ada juga.
Segera setelah dia mencapai kesimpulan ini, Harry menjadi sadar bahwa dia 
telanjang. Yakin sedang sendirian di sana, dia tak kuatir, tapi keadaan itu 
membuatnya sedikit penasaran. Dia bertanya-tanya apakah sebagaimana dia 
bisa merasa, dia juga bisa melihat? Ketika membukanya, sadarlah dia bahwa dia 
punya mata. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 34"

BAB 34: KEMBALI KE HUTAN 




Pada akhirnya, kebenaran. Sambil berbaring dengan wajah menekan karpet
berdebu di dalam ruangan yang dianggapnya dulu sebagai tempat yang 
mengajarkannya rahasia kemenangan, Harry akhirnya mengerti kalau dia tak 
semestinya selamat. Tugasnya adalah melangkah tenang ke dalam pelukan 
Kematian sekaligus memutuskan hubungan yang masih tersisa antara Voldemort 
dengan kehidupan. Maka ketika akhirnya dia melemparkan diri menghadapi 
Voldemort dan tidak menghunus tongkatnya untuk membela diri, kesudahannya 
akan jelas, dan tugas yang mestinya telah tuntas di Godric’s Hallow akhirnya 
akan selesai. Tak seorangpun akan hidup, tak seorangpun akan selamat. 
Dia merasakan gemuruh jantung yang berdentam-dentam dalam dadanya. 
Betapa anehnya, dalam ketakutannya akan maut jantung itu malah memompa 
dengan begitu kencangnya, menjaganya tetap hidup. Tapi jantung itu mesti 
berhenti, segera. Detaknya tinggal menghitung waktu. Berapa banyak waktu 
yang diperlukan, sementara dia bangkit dan melangkah sepanjang kastil itu 
untuk terakhir kalinya,  untuk berjalan keluar dan pergi memasuki hutan? 
Rasa ngeri mencengkeramnya ketika berbaring di lantai, dan genderang 
penguburan bertalu-talu dalam jantungnya. Akankah kematian itu menyakitkan? 
Selama ini dia telah menduga bahwa itu  akan terjadi, dan dia akan selamat, dan 
tak pernah dia memikirkan tentang kematian itu sendiri. Kemauannya untuk hidup 
jauh lebih besar dibanding rasa takut akan kematian. Namun sekarang tak 
terpikir olehnya sama sekali untuk mencoba mengelak, untuk melarikan diri dari 
Voldemort. Semua sudah berakhir, dia tahu, dan yang tersisa hanyalah satu hal: 
mati. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 33"

Bab 33: Prince’s Tale( Kisah Pangeran)


Harry tetap berlutut di samping Snape, hanya menatapnya, hingga sebuah suara 
melengking dingin berbicara sangat dekat pada mereka, sampai-sampai Harry 
terlonjak berdiri, mencengkeram tabungnya erat-erat, mengira Voldemort telah 
kembali ke ruangan itu. 
Suara Voldemort bergaung dari dinding, dari lantai, dan Harry menyadari 
bahwa dia berbicara pada Hogwarts dan daerah sekitarnya, agar penduduk 
Hogsmeade dan semua yang masih bertempur di kastil akan mendengarnya 
sejelas bila ia berdiri di samping mereka, napasnya di belakang leher, 
mengembuskan kematian. 
“Kalian telah bertempur,” sahut suara melengking dingin itu, “dengan gagah 
berani. Lord Voldemort paham caranya menghargai keberanian.” 
“Tapi kalian menderita kekalahan yang besar. Kalau kalian bertahan, tetap 
menolakku, kalian akan mati semuanya, satu persatu. Aku tak menginginkan ini 
terjadi. Setiap tetes darah sihir yang tertumpah adalah suatu kehilangan, 
suatu penghamburan.” 
“Lord Voldemort bermurah hati. Aku perintahkan pasukanku untuk mundur 
sekarang juga.” 
“Kalian punya waktu satu jam. Perlakukan yang mati secara bermartabat. 
Rawatlah lukalukamu.” 
Aku berbicara sekarang, Harry Potter, langsung padamu. Kau mengijinkan temantemanmu mati untukmu, daripada menghadapiku sendiri. Aku akan menunggumu 

Novel: "Harry Potter 7 bab 32"


Bab 32: The Elder Wand (Tongkat Elder)


[tidak diterjemahkan, menunggu keputusan dari bab-bab sebelumnya bagaimana 
menerjemahkan The Elder Wand]
Dunia sudah berakhir, jadi kenapa pertempuran tidak berhenti, kastil jadi 
terdiam dalam kengerian, dan para pejuang meletakkan senjatanya? Benak 
Harry terjun bebas, berputar tanpa kendali, tak mampu menangkap hal yang tak 
mungkin, karena Fred Weasley tak mungkin mati, bukti-bukti yang diberikan 
oleh semua indranya pasti berbohong--
Lalu sesosok tubuh jatuh melewati lubang ledakan di sisi sekolah, dan kutukankutukan berhamburan menuju mereka dari kegelapan, mengenai dinding di 
belakang kepala-kepala mereka.
“Tiarap!” seru Harry, saat makin lama kutukan semakin banyak menghujani 
mereka 
melewati malam: ia dan Ron menangkap Hermione lalu menariknya bertiarap di 
lantai, tapi Percy berbaring menutupi Fred, melindunginya dari bahaya, dan saat 
Harry berteriak, 
”Percy, ayo, kita harus bergerak!” ia malah menggelengkan kepala.
“Percy!” Harry melihat bekas airmata membelah debu yang menutupi wajah Ron 
saat ia meraih bahu kakak laki-lakinya, dan menariknya, tapi Percy bergeming. 
“Percy, kau tidak dapat melakukan apapun untuknya. Kita akan—“
Hermione berteriak, dan Harry menoleh, tak perlu bertanya kenapa. Laba-laba 
yang besar sekali seukuran mobil kecil mencoba memanjat lubang besar di 
dinding: salah satu keturunan Aragog telah bergabung dalam pertempuran.

Novel: "Harry Potter 7 bab 31"

Bab 31: The Battle of Hogwarts (PERTEMPURAN HOGWARTS) 




Langit-langit sihiran di Aula Besar terlihat gelap dan bertabur bintang, 
dibawahnya empat meja asrama berjajar dikelilingi siswa-siswi yang berkerumun 
tak beraturan, beberapa mengenakan jubah bepergian, yang lain memakai baju 
rumah. Disana-sini terlihat kilauan seputih mutiara hantu-hantu sekolah. Setiap 
mata, hidup dan mati, tertuju pada Prof. McGonagall, yang berbicara dari podium 
di depan aula. Disampingnya berdiri guru-guru yang tersisa, termasuk sang 
centaurus, Firenze, dan para anggota Orde Phoenix yang datang untuk 
bertempur. 
“Evakuasi akan dipandu oleh Mr. Filch dan Madam Pomfrey. Prefek, jika 
kuberi komando, atur asrama kalian dan pimpin dengan rapi seperti biasa 
menuju titik evakuasi.” 
Banyak diantara siswa yang terlihat ketakutan. Tiba-tiba, ketika Harry 
menyusuri dinding, mencari Ron dan Hermione di meja Gryffindor, 
ErnieMcMillan berdiri diatas meja Hufflepuff dan berteriak; “Bagaimana jika
kami ingin tinggal dan bertarung?” 
Terdengar gemuruh tepuk tangan. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 30"

Bab 30: The Sacking of Severus Snape

(PEMECATAN SEVERUS SNAPE)



Saat jari Alecto menyentuh Tanda, bekas luka Harry terasa terbakar liar, ruang 
berbintang tiba-tiba lenyap dari pandangan, dan Harry berdiri di atas puncak 
potongan batu di bawah sebuah karang, ombak laut bergulung di sekitarnya, dan 
kemenangan di hatinya—mereka mendapatkan anak itu.
Sebuah letusan keras membawa Harry kembali ke tempat ia berdiri: bingung, ia 
mengangkat tongkatnya, tapi penyihir di hadapannya segera terjatuh ke depan, 
ia menabrak lantai sedemikian keras sampai-sampai kaca-kaca di rak buku 
bergemerincing. 
“Aku belum pernah Memingsankan orang kecuali dalam pelajaran LD kita,” sahut 
Luna, terdengar agak tertarik. “Lebih berisik dari yang kuduga.” 
Sudah barang tentu, langit-langit mulai bergetar. Langkah kaki bergegas,
bergema, terdengar lebih keras di balik pintu menuju asrama; mantra Luna 
membangunkan para murid Ravenclaw yang tidur di lantai atas. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 29"


Bab 29: Lost Diadem  (Diadem yang Hilang)


[Note: sama dengan bab 30, tadinya diadem akan diterjemahkan menjadi 
mahkota, meski bentuknya berbeda, tapi ternyata diadem juga ada dalam bahasa 
Indonesia, ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Bahasa Indonesia 
– penerjemah]
“Neville—apa yang—bagaimana?” 
Tapi Neville juga melihat Ron dan Hermione, memeluk mereka juga dengan 
teriakan kegembiraan. Makin lama Harry mengamati Neville, makin jelek 
kelihatannya: satu mata bengkak, kuning dan ungu, ada tanda tercungkil di 
wajahnya, keadaannya tak terurus mengisyaratkan bahwa dia selama ini hidup 
keras. Tapi roman mukanya bersinar-sinar dengan kebahagiaan saat ia melepas 
Hermione, dan berkata lagi, ”Aku tahu kau akan datang! Aku terus bilang pada 
Seamus, ini hanyalah masalah waktu!” 
”Neville, apa yang terjadi padamu?” 
”Apa? Ini?” Neville mengabaikan luka-lukanya dengan satu goyangan kepala. ”Ini 
bukan apa-apa. Seamus lebih buruk. Kau lihat saja nanti. Kita pergi sekarang? 
Oh,” ia menoleh pada Aberforth, ”Ab, mungkin akan ada beberapa orang lagi yang 
akan datang.” 

Novel: "Harry Potter 7 bab 28"



Bab 28 : The Missing Mirror 


 Cermin yang Hilang Kaki Harry menyentuh jalan. Ia melihat pemandangan yang
menyakitkan, Jalan Utama Hogsmeade yang dikenalnya: bagian depan toko-toko
yang gelap, garis bentuk pegunungan yang gelap di belakang desa, belokan jalan
di depan yang menuju Hogwarts, cahaya yang tercurah dari jendela Three
Broomstick, dan dengan sentakan di jantungnya, diingatnya, dengan ketepatan
yang menusuk, bagaimana dia pernah mendarat di sini, nyaris setahun lalu,
memapah Dumbledore yang lemah; kesemuanya dalam sedetik, saat mendarat—
kemudian, saat ia mengendurkan pegangan pada lengan Ron dan Hermione, hal itu
terjadi.
Udara terbelah oleh jeritan yang terdengar seperti jeritan Voldemort saat
Voldemort menyadari piala sudah dicuri; mengoyak tiap helai syaraf di tubuh
Harry, dan ia segera tahu bahwa kemunculan merekalah penyebabnya. Saat
Harry memandang kedua temannya di bawah Jubah, pintu Three Broomstick
terbuka cepat, selusin Pelahap Maut berjubah dan bertudung menghambur ke
jalan, tongkat mereka teracung.

Novel: "Harry Potter 7 bab 27"


Bab 27: The Final Hiding Place (Tempat Persembunyian Terakhir)


Tak ada cara untuk mengendalikan sang naga; naga itu tak dapat melihat kemana 
ia pergi, dan Harry tahu bahwa jika naga itu berbelok dengan tajam atau 
berputar di udara, maka tidak mungkin bagi mereka untuk berpegangan ke 
punggungnya yang lebar. Meskipun demikian, saat mereka terbang lebih tinggi 
dan lebih tinggi lagi, London terbentang di bawah mereka seperti peta berwarna 
abu-abu dan hijau, perasaan gembira Harry yang meluap adalah suatu bentuk 
syukur atas sebuah pelarian yang nampak tidak mungkin. Ia membungkukkan 
badannya di atas leher naga itu, berpegang erat pada sisik-sisik metalik, dan 
angin sepoi-sepoi yang sejuk terasa menenangkan di kulitnya yang terbakar dan 
melepuh, sayap naga itu berkepak di udara seperti putaran kincir angin. Di 
belakangnya, apakah karena takut atau gembira Harry tidak tahu, namun Ron tak 
henti-hentinya menyerukan sumpah-serapah sekuat yang ia bisa, dan Hermione 
kelihatan menangis tersedu-sedu. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 26"


Bab 26: Gringotts


Rencana telah disusun, persiapan sudah lengkap; di kamar tidur yang paling kecil, 
sehelai rambut panjang dan kasar (dicabut dari sweater yang Hermione kenakan 
saat di Kediaman Malfoy) bergulung dalam botol kaca kecil di rak atas perapian. 
“Dan kau akan memakai tongkat aslinya,” kata Harry, mengangguk ke arah 
tongkat walnut, “jadi menurutku kau akan sangat meyakinkan.” 
Hermione tampak ketakutan seolah tongkat itu akan menyengat atau menggigit 
ketika dia mengambilnya. 
“Aku benci benda itu,” katanya pelan. “Aku benar-benar membencinya. Rasanya 
serba salah, tidak berfungsi dengan baik untukku…seperti ada sedikit bagian 
dari dirinya.” 
Mau tak mau Harry mengingat bagaimana dulu Hermione mengabaikan 
keengganannya terhadap tongkat blackthorn, ngotot kalau cuma khayalan Harry 
sajalah tongkat itu tidak berfungsi sebaik miliknya sendiri, menasehatinya 
untuk terus berlatih. Harry memilih untuk tidak membalas Hermione dengan 
nasehatnya sendiri, bagaimanapun, malam sebelum serangan mereka ke 
Gringotts bukanlah waktu yang tepat untuk berseberangan dengannya. 
“Tapi itu mungkin bisa membantumu mendalami karakter,” kata Ron, “pikirkan apa 
yang telah dilakukan tongkat itu!” 

Novel: "Harry Potter 7 bab 25"


Bab 25: Shell Cottage (Pondok Kerang)


Pondok Bill dan Fleur berdiri sendiri di atas jurang yang menghadap ke laut,
pada dindingnya melekat kerang dan air kapur. Tempat yang sunyi dan indah.
Kemanapun Harry pergi, ke pondok kecil atau tamannya, dia dapat mendengar
serapan dan aliran air laut, seperti nafas beberapa raksasa yang tidur. Ia
menghabiskan waktunya sepanjang minggu membuat alasan untuk melarikan diri
dari pondok yang ramai itu, berharap supaya bisa memandang ketinggian langit
terbuka, laut, merasakan dingin dan angin asin di wajahnya.
Besarnya keputusan untuk tidak bersaing dengan Voldemort memperebutkan
tongkat yang membuatnya khawatir. Sebelumnya Harry tidak dapat mengingat
kenapa ia memilih untuk tidak bertindak. Dia dipenuhi keraguan, keraguan bahwa
Ron tidak dapat membantunya sewaktu mereka membahasnya.

Novel: "Harry Potter 7 bab 24"


Bab 24: The Wandmaker (Pembuat Tongkat)


Rasanya seperti tenggelam ke dalam mimpi buruk lama; dalam sekejap, Harry 
seperti berlutut lagi di samping tubuh Dumbledore di kaki menara tertinggi 
Howarts, tapi kenyataannya dia sedang memAndang tubuh kurus yang ada di atas 
rumput, tertusuk oleh pisau perak Bellatrix. Suara Harry masih menyebut, 
”Dobby… Dobby…” meskipun dia tahu bahwa peri itu telah pergi ke tempat 
dimana ia tak dapat memanggilnya kembali. 
Setelah beberapa menit atau sekitar itu, dia sadar bahwa dia, akhirnya, telah 
datang ke tempat yang benar, ketika Bill dan Fleur, Dean dan Luna, berkumpul di 
sekitarnya ketika dia berlutut di samping peri itu. 
“Hermione.” Akhirnya dia berkata, “Dimana dia?” 
“Ron telah membawanya ke dalam.” Kata Bill, “Dia akan baik-baik saja.”
Harry melihat ke belakang pada Dobby lagi. Dia menggenggamkan 
tangannya dan mencabut pisau tajam itu dari tubuh Dobby, kemudian 
melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Dobby dengannya seperti 
selimut. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 23"


BAB 23: Malfoy's Manor (Kediaman Keluarga Malfoy)


Harry melihat sekeliling pada dua orang lainnya, sekarang semuanya diliputi
kegelapan. Dia melihat Hermione mengacungkan tongkatnya, ke arah luar, tetapi
malah mengarah ke wajahnya; terdengar suara keras, kilatan cahaya putih, dan
dia menunduk kesakitan, tak bisa melihat. Dia bisa merasakan wajahnya
membengkak dengan cepat dibalik tangannya saat langkah-langkah berat
mengelilinginya.
"Bangun, orang hina."
Tangan tak dikenal menarik Harry kasar dari lantai, sebelum dia bisa
menghentikan mereka, seseorang menggeledah sakunya dan mengeluarkan
tongkat blackthorn. Harry mencengkeram wajahnya yang luar biasa sakitnya,
yang terasa tak dikenali di dalam jarijarinya, ketat, bengkak dan gembung seolah
dia menderita reaksi alergi hebat. Matanya menyempit hingga tinggal celah dan
sulit untuk melihat; kacamatanya jatuh saat dia keluar dari tenda: semua yang
bisa terlihat hanyalah bentuk kabur dari empat atau lima orang bergulat dengan
Ron dan Hermione di luar.

Novel: "Harry Potter 7 bab 22"


Bab 22: Deathly Hallows (Relikui Kematian)


Harry jatuh, terengah-engah dirumput dan merangkak sekaligus. Tampaknya 
mereka mendarat di sudut sebuah lapangan saat senja hari; Hermione sedang 
berlari membuat sebuah lingkaran di sekitar mereka dengan melambaikan 
tongkat sihirnya. 
“Protego totalum…Salvio hexia...” 
“Dasar pengkhianat tua pengadu,” Ron terengah-engah keluar dari jubah gaib 
dan melemparnya ke Harry. “Hermione kau memang jenius, sangat jenius, aku 
tak percaya kita dapat keluar dari semua itu.” 
“Cave inimicum… aku sudah bilang itu adalah tanduk Frumpent, bukan kah 
telah kuperingatkan dia? Dan sekarang rumahnya hancur berantakan.” 
“Dia pantas mendapatkannya,” ucap Ron, memeriksa sobekan di jeansnya dan 
luka di kakinya, “apa yang kau pikir akan mereka lakukan padanya?” 
“Oh kuharap mereka tak membunuhnya,” erang Hermione, “karena itulah aku 
ingin para Pelahap Maut dapat melihat Harry sekilas sebelum kita pergi, jadi 
mereka tahu Xenophilius tidak berbohong.” 

Novel: "Harry Potter 7 bab 21"


Bab 21: The Tale of the Three Brothers  (Dongeng Tiga Bersaudara )


Harry berbalik untuk menatap Ron dan Hermione. Tak ada satu pun dari
mereka yang terlihat mengerti mengenai apa yang Xenophilius katakan.
“Deathly Hallows?”
“Benar,” kata Xenophilius. “Kalian belum pernah mendengarnya? Aku tak
terkejut. Sangat, sangat sedikit penyihir yang percaya. Lihat bocah laki-laki
tolol yang ada di pesta pernikahan saudaramu,” ia mengangguk ke arah Ron, “yang
menyerangku karena aku menggunakan lambang dari Penyihir Hitam yang
terkenal! Sangat bodoh. Tidak ada yang Gelap mengenai Hallows itu – setidaknya
secara kasarnya. Seseorang menggunakan lambang itu untuk menguak dirinya
kepada orang lain yang percaya, dengan harapan mereka akan menolong
seseorang dalam Pencarian itu.”
Ia mengaduk beberapa bungkah gula ke dalam cairan Gurdyroot-nya dan
meminumnya sedikit.
“Maaf,” kata Harry. “Saya masih belum mengerti.”
Agar terlihat sopan, Harry minum sedikit dari cangkirnya, dan hampir
tersedak: Gurdyroot itu sedikit menjijikkan, seperti seseorang yang
mencairkan Kacang Segala Rasa rasa ingus.

Novel: "Harry Potter 7 bab 20"


Bab 20: Xenophilius Lovegood 


Xenophilius Lovegood*
Harry tidak mengharapkan kemarahan Hermione mereda setelah malam hari
dan oleh karena itu tidak heran bahwa dia terlihat kotor dan lebih banyak diam
pada keesokan paginya. Ron menanggapinya dengan menampakkan tanda
kesedihan yang tak biasanya dengan penyesalan yang dalam dari sikap
Hermione. Kenyataannya, ketika mereka bertiga bersama, Harry merasa
seperti satu-satunya bukan pelayat yang menghadiri pemakaman. Namun selama
beberapa waktu itu, Ron menghabiskan waktu bersama Harry (mengambil air
dan mencari jamur muda). Ia menjadi begitu riang.
Seseorang telah membantu kita,” dia tetap berkata, “Seseorang mengirim rusa
betina itu, Seseorang yang ada di pihak kita, Satu Horcrux hancur, kawan!”
Terdorong oleh kehancuran liontin, mereka kemudian membahas kemungkinan
lokasi dari Horcrux-Horcrux lainnya meskipun mereka telah sering
mendiskusikan hal itu sebelumnya. Harry merasa optimis, yakin bahwa
terobosan-terobosan berikutnya akan mengikuti sukses ini. Kedongkolan
Hermione tidak dapat merusak semangat besarnya; nasib baik mereka yang
datang tiba-tiba, kemunculan dari rusa betina yang misterius, kembalinya
pedang Gryffindor, dan di atas semua itu, kembalinya Ron membuat Harry
sangat senang, yang menyebabkan cukup sulit untuk membuatnya tidak
tersenyum.

Novel: "Harry Potter 7 bab 19"



Bab 19: THE SILVER DOE (RUSA BETINA PERAK)


Salju turun saat Hermione mengambil alih tugas untuk berjaga-jaga tengah 
malam. Mimpi-mimpi Harry sangat mengganggu & membuatnya bingung: Nagini 
menyelinap di antara mereka: awalnya melalui cincin raksasa yang sudah retak, 
lalu melalui karangan bunga mawar untuk Natal. Ia terbangun berulang-ulang, 
panik, dan sangat yakin bahwa seseorang berteriak memanggil namanya dari 
kejauhan, serta membayangkan angin yang menderu di sekitar tenda sebagai 
langkah kaki, atau suara-suara. 
Akhirnya ia terbangun dalam kegelapan dan bergabung dengan Hermione yang 
sedang meringkuk di pintu tenda membaca Sejarah Sihir dengan bantuan 
cahaya dari tongkatnya. Salju masih turun dengan lebat, dan Hermione 
menyambut dengan senang hati usul Harry untuk berkemas dan pindah.
“Kita akan pindah ke tempat yang lebih terlindung,” Hermione setuju, menggigil 
saat ia mengenakan sweater di atas piamanya. “Aku terus menerus berpikir 
bahwa aku bisa mendengar ada orang bergerak di luar. Aku bahkan mengira 
telah melihat seseorang, sekali atau dua kali.” 

Novel: "Harry Potter 7 bab 18"



Bab 18: The Life and Lies of Albus
(Dunia dan Dusta Albus Dumbledore
Dumbledore )



Matahari mulai terbit: jernih, langit tanpa warna terbentang luas diatasnya,
tidak peduli padanya maupun pada penderitaannya. Harry duduk di pintu masuk
tenda dan menghirup udara bersih dalam-dalam. Masih bisa hidup untuk
menyaksikan matahari terbit diatas sisi bukit bersalju yang berkilau sebenarnya
merupakan harta paling berharga di dunia; ia belum bisa menghargainya:
perasaannya telah terpaku oleh malapetaka kehilangan tongkatnya. Ia
memandang lembah yang diselimuti salju, lonceng gereja di kejauhan berdentang
melalui kesunyian yang gemerlap.
Tanpa sadar, ia meraba lengan dengan jari-jarinya seperti sedang mencoba
melawan rasa sakit. Dia telah menumpahkan darahnya sendiri lebih sering
daripada yang bisa dihitungnya; dia kehilangan semua tulang di lengan kanannya
sekali; perjalanan ini telah memberinya luka di dada dan lengan bawah untuk
menambah luka sebelumnya di dahi dan tangannya, tapi tak pernah, sampai saat
ini, dia merasakan perasaan lemah, mudah diserang, dan tanpa perlindungan yang
parah, karena bagian terbaik dari kemampuan sihirnya telah tercabik darinya.
Ia tahu pasti apa yang akan dikatakan Hermione jika dia mengatakan hal ini:

Novel: "Harry Potter 7 bab 17"


Bab 17: Bathilda's Secret (Rahasia Bathilda)


“Harry, berhenti.”
“Ada apa?”
Mereka baru saja sampai di makam Abbot yang tidak dikenal.
“Ada seseorang di sana. Aku yakin seseorang sedang memperhatikan kita. Di
sana. Di belakang semak.”
Mereka berdiri diam, saling berpegangan tangan, sambil memandang ke
kegelapan yang pekat di sekitar pemakaman. Harry tidak dapat melihat apapun.
“Apa kau yakin?”
“Aku melihat sesuatu bergerak, aku bersumpah aku…”
Dia melepas tangan Harry dan segera menyiapkan tongkat di tangannya.
“Kita terlihat seperti muggle,” kata Harry.
“Muggle yang meletakkan bunga di atas makam ayahmu? Harry, aku yakin ada
seseorang di sana!”

Novel: "Harry Potter 7 bab 16"

Bab 16 Godric’s Hollow 




Saat Harry bangun keesokan harinya, ada beberapa saat sebelum ia ingat apa 
yang telah terjadi. Lalu ia berharap, layaknya anak kecil, bahwa itu hanyalah 
mimpi, bahwa Ron masih ada di sini dan tidak pergi. Tapi saat ia menoleh ke 
bawah, yang ia lihat hanyalah ranjang Ron yang kosong. Ia mengalihkan 
pandangan matanya ke arah lain. Harry melompat turun dari ranjangnya dan 
berusaha untuk tidak melihat ranjang Ron. Hermione, yang sudah sibuk di dapur, 
tidak menyapa Harry, malah membuang muka saat Harry melewatinya. 
Dia sudah pergi, kata Harry pada dirinya sendiri. Dia sudah pergi. Harry terus 
saja memikirkannya selama ia mandi dan berpakaian, dan terus mengulangulangnya seakan ia masih terkejut dengan kejadian semalam. Dia sudah pergi 
dan tidak akan kembali lagi. Dan itulah kenyataan yang Harry tahu, karena 
dengan adanya sihir perlindungan, tidak mungkin kau bisa kembali, begitu kau 
meninggalkannya. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 15"


Bab 15: The Goblin’s Revenge  (Pembalasan Goblin )


Pagi keesokan harinya, sebelum yang lain bangun, Harry pergi untuk mencari
pohon tertua, terbesar, dan terkokoh yang ada di sekitar tenda. Di sanalah
Harry menguburkan mata Mad-Eye dan menandainya dengan menorehkan tanda
salib di kulit kayu pohon itu dengan tongkatnya. Tidak terlalu bagus, tapi Harry
merasa bahwa Mad-Eye akan lebih memilih ini daripada harus dipajang di pintu
kantor Umbridge. Lalu Harry kembali ke tenda dan menunggu yang lain bangun
untuk membicarakan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Harrry dan Hermione merasa bahwa jalan terbaik adalah tidak tinggal di satu
tempat dalam waktu yang lama, dan Ron setuju, dengan syarat bahwa tujuan
selanjutnya berhubungan dengan roti isi daging asap. Hermione melepaskan sihir
perlindungan yang telah ia pasang, sementara Harry dan Ron menghilangkan
semua tanda yang menunjukkan bahwa mereka pernah berkemah di sini. Lalu
mereka ber-Disapparate ke daerah pinggiran kota.

Novel: "Harry Potter 7 bab 14"


Bab 14: The Thief (Si Pencuri)


Harry membuka matanya, silau antara hijau dan emas. Dia tidak tahu apa yang 
telah terjadi, hanya tahu dia terbaring di antara sesuatu yang tampaknya 
seperti dedaunan dan ranting. Berusaha untuk mengalirkan udara ke 
kerongkongan yang terasa sesak, ia mengerjap dan menyadari bahwa cahaya 
menyilaukan tersebut adalah sinar matahari yang masuk melalui kanopi dedaunan 
jauh diatasnya. Kemudian sesuatu yang bergerakgerak mendekati wajahnya. Ia 
mengangkat tubuhnya beralaskan tangan dan lutut, bersiap menghadapi sesuatu 
yang kecil, makhluk yang galak, tetapi melihat bahwa itu ternyata hanyalah kaki 
Ron. Mengamati sekeliling, Harry menyadari bahwa mereka berdua dan 
Hermione terbaring di hutan, tampaknya mereka hanya sendirian. 
Pikiran pertama yang terlintas di benak Harry adalah Hutan Terlarang, dan 
untuk sekejap, walaupun ia tahu betapa bodoh dan berbahaya bagi mereka untuk 
muncul di tanah Hogwarts, hatinya bergejolak ketika terpikir bahwa mereka
mengendap-endap diantara pepohonan di pondok Hagrid. Bagaimanapun, dalam 
sekejap waktu yang digunakan Ron untuk merintih perlahan dan Harry mulai 
merangkak mendekatinya, ia menyadari bahwa itu bukan Hutan Terlarang. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 13"

Bab 13: The Muggle-Born Registration Commission 

(Komisi Pendaftaran Kelahiran Muggle) 



“Ah, Mafalda!” kata Umbridge, melihat pada Hermione. ”Travers
mengirimmu, benar kan?”
“Y-ya.” cicit Hermione.
“Bagus, yang kau kerjakan sangat bagus.” Umbridge bicara pada penyihir lakilaki dalam pakaian hitam dan emas. ”Dengan demikian masalah selesai. Pak
Menteri, jika Mafalda dapat menjaga catatannya kita segera siap untuk
memulai.” dia memeriksa clipboardnya. ”Sepuluh orang hari ini dan salah satunya
istri dari pekerja Kementrian! Tut, tut... bahkan di sini, di jantung Kementrian!”
dia melangkahkan kakinya di samping Hermione, dua orang penyihir pria yang
telah mendengarkan pecakapan antara Umbridge dengan Menteri. ”Kita akan
turun kebawah, Mafalda, kau akan menemukan semua yang kau perlukan di ruang
sidang. Selamat pagi Albert, kau akan keluar?”
“Ya, tentu saja,” kata Harry dengan suara berat Runcorn.
Harry keluar dari lift. Terali emas begemerincing menutup di belakangnya.
Menengok melewati bahunya, Harry melihat Hermione, kekhawatiran
terpampang di wajahnya, seorang penyihir pria tinggi di sampingnya, pengikat
rambut beludru Umbridge sejajar dengan bahunya.

Novel: "Harry Potter 7 bab 12"

Bab 12: Magic is Might (Sihir adalah Kekuatan*) 




Di bulan Agustus, petak rumput yang tidak terawat di depan Grimmauld Place 
mulai layu di bawah sinar matahari hingga menjadi rapuh dan kecokelatan. 
Penghuni rumah nomor dua belas tidak pernah dilihat oleh siapapun di rumahrumah sekitarnya, tidak juga nomor dua belas itu sendiri. Muggle yang tinggal di 
Grimmauld Place sendiri sudah lama terbiasa dengan kesalahan penomoran 
memalukan yang menyebabkan rumah nomor sebelas bersebelahan dengan rumah 
nomor tiga belas. 
Deretan rumah itu telah menarik beberapa pengunjung karena keanehan yang 
ada. Bahkan selama beberapa hari para pengunjung itu datang ke Grimmauld
Place tanpa alasan lain, atau kelihatannya begitu, selain bersandar ke susuran 
tangga yang berhadapan dengan rumah nomor sebelas dan tiga belas, mengamati 
dinding penghubung antara kedua rumah itu. Para pengintai itu berganti tiap dua 
hari, meskipun mereka semua berbagi ketidaksenangan pada pakaian normal. 
Orang-orang London yang melewati mereka mengira mereka hanya suka 
berpakaian aneh dan hanya melihat sekilas, walau pun ada juga yang menatap 
mereka lekat-lekat, penasaran mengapa ada orang yang mau memakai jubah di 
suhu sepanas ini. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 11"

Bab 11: The Bribe (Uang Sogokan*




Jika Kreacher bisa kabur dari danau penuh Inferi, Harry yakin bahwa 
penangkapan Mundungus hanya memakan sedikit waktu, dan pagi ini ia 
berkeliling rumah sebagai bentuk antisipasi. Bagaimanapun, Kreacher tidak 
kembali pagi itu atau bahkan pada waktu sore. Saat malam tiba, Harry 
merasa putus asa dan cemas, dan makan malam dengan roti berjamur, yang 
sudah Hermione coba siapkan dengan berbagai mantra transfigurasi yang 
gagal, juga tidak membantu. 
Kreacher tidak kembali hari itu, juga tidak keesokan harinya. Namun, dua lakilaki berjubah muncul di depan rumah nomor dua belas itu, dan mereka tinggal
disana sampai malam, memandang ke arah rumah yang tidak bisa mereka lihat. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 10"

Bab 10: Kreacher’s Tale (Kisah Kreacher)

Harry bangun lebih dulu keesokan paginya, terbungkus kantung tidur di lantai ruang tamu. Langit terlihat dari celah tirai. Langit tampak biru tenang, masih antara malam dan fajar. Begitu sepi, yang terdengar hanya nafas berat dan pelan dari Ron dan Hermione yang masih tertidur. Harry menatap sosok gelap yang tertidur di sebelahnya. Ron telah bersikap ksatria dan memaksa Hermione tidur di sofa. Bayangan Hermione menutupi Ron. Tangan Hermione menggantung, dan jarinya hampir menyentuh jari Ron. Harry berpikir apakah mereka tertidur dengan saling berpegangan tangan. Bayangan itu tiba-tiba membuatnya merasa sendiri.

Harry menatap langit-langit yang gelap, ke arah lampu gantung yang dipenuhi jaring laba-laba. Kurang dari dua puluh empat jam yang lalu, ia sedang berdiri di bawah sinar matahari di depan pintu masuk tenda, menunggu para tamu untuk menunjukkan tempat duduk mereka. Sepertinya sudah lama sekali. Apa yang akan terjadi sekarang? Ia terbaring di lantai dan memikirkan Horcrux, misi yang rumit dan sulit, yang telah Dumbledore berikan… Dumbledore… 

Novel: "Harry Potter 7 bab 9"


Bab 9: A Place To Hide (Tempat Untuk Bersembunyi)


Semuanya berjalan lambat dan membingungkan. Harry dan Hermione meloncat dari kursi dan mengeluarkan tongkat mereka. Banyak orang yang baru menyadari suatu hal aneh telah terjadi. Mereka masih tampak kebingungan saat kucing perak itu menghilang. Semua bungkam memandangi tempat Patronus tadi muncul, lalu seseorang berteriak. 

Harry dan Hermione berlari menerobos kerumunan orang yang panik. Para tamu berlari ke segala arah, beberapa di antaranya ber-Disapparate, perlindungan the Burrow telah rusak. 

”Ron!” teriak Hermione. “Ron, kau di mana?”

Saat mereka menerobos di tengah lantai dansa, Harry dapat melihat sosok bertudung dan bertopeng muncul. Lalu ia melihat Lupin dan Tonks mengangkat tongkat mereka dan keduanya berteriak ”Protego!”, dan terdengar tangisan menggema. 

”Ron! Ron!” panggil Hermione yang hampir menangis saat mereka berada di tengah-tengah para tamu yang ketakutan. Harry meraih tangan Hermoine meyakinkan diri agar tidak terpisah. Lalu kilatan cahaya melewati atas kepala mereka. 

Akhirnya mereka menemukan Ron, yang langsung meraih tangan Hermione yang lain, lalu Harry merasa tempat itu berputar. Semuanya berubah gelap. Dan yang bisa Harry rasakan hanya tangan Hermione yang menggenggamnya erat. Harry merasa mereka menjauh dari the Burrow, dari Pelahap Maut yang berdatang, bahkan dari Voldemort. 

Novel: "Harry Potter 7 bab 8"


Bab 8: The Wedding (Pernikahan)


Pukul tiga keesokan sorenya, Harry, Ron, Fred, dan George berdiri di luar tenda putih besar yang dipasang di kebun, menunggu kedatangan para tamu undangan. Harry telah meminum segelas dosis besar Ramuan Polijus dan menyaru menjadi seorang bocah berambut merah di desa Ottery St Catchpole, yang beberapa helai rambutnya telah diambil Fred dengan Mantra Panggil. Rencananya adalah memperkenalkan Harry sebagai ‘sepupu Barny’ dan bergantung pada banyaknya jumlah sanak saudara keluarga Weasley sebagai penyamarannya. 

Keempatnya memegang daftar tempat duduk agar bisa membantu para tamu undangan menemukan tempat duduk mereka. Pembawa acara, pelayan berjubah putih, dan anggota band berjaket emas, sudah datang satu jam sebelumnya. Mereka semua sekarang sedang duduk di bawah pohon tak jauh dari tenda. Harry dapat melihat pipa rokok biru di sana. 

Harry Potter 7 Bab 7




Bab 7:
The Will of Albus Dumbledore
(Peninggalan/Wasiat Albus Dumbledore )


Harry berjalan di pegunungan yang dingin di bawah langit pagi yang gelap. Jauh di bawahnya, sebuah kota kecil diselimuti kabut. Apakah pria itu ada di bawah sana? Pria yang sangat ia butuhkan sampai ia tidak dapat memikirkan hal yang lain. Pria yang tahu jawaban dari masalahnya… 

"Oi, bangun."

Harry membuka matanya. Ia berbaring di atas kasur lipat di dalam kamar Ron. Matahari belum lagi terbit dan ruangan itu masih gelap. Pigwidgeon masih tertidur dengan kepala di bawah sayap kecilnya. Bekas luka di dahi Harry terasa menusuk.

Harry Potter dan Relikui Kematian bab 6


The Ghoul in Pajamas (Ghoul * Berpiyama)


Kegemparan atas meninggalnya Mad-Eye berlangsung selama beberapa hari. Harry tetap berharap bahwa Mad-Eye akan muncul dari pintu belakang seperti anggota Orde lainnya, yang keluar masuk membawa berita baru. Harry merasa bahwa hanya ada satu hal bisa membantunya meredakan rasa sedih dan bersalahnya, yaitu pergi mencari dan menghancurkan Horcrux secepatnya.

“Yah, kau tidak bisa melakukan apa-apa dengan…” mulut Ron mengucapkan kata Horcrux tanpa bersuara, “sampai berumur tujuh belas tahun. Kau masih dipantau. Dan kita bisa menata rencana di sini. Atau,” Ron mengecilkan suaranya, “kau sudah yakin kau-tahu-apa berada di mana?”

“Tidak,” aku Harry. 

“Kukira Hermione sedang melakukan penelitian,” kata Ron. “Katanya dia menyiapkan sesuatu untukmu.” 

Mereka berdua duduk di meja sarapan. Mr. Weasley dan Bill baru saja berangkat bekerja. Mrs. Weasley pergi ke atas untuk membangunkan Hermione dan Ginny. Sedangkan Fleur sedang mandi. 

Harry Potter dan Relikui Kematian bab 5

Bab 5: Fallen Warrior (Pejuang yang Gugur )


“Hagrid?” 
Harry memaksa dirinya untuk bangun dan melepaskan diri dari reruntuhan logam 
dan kulit yang menutupinya. Tangannya terendam beberapa senti di dalam air 
berlumpur saat ia mencoba untuk berdiri. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba
Voldemort menghilang dan berharap kegelapan ini segera hilang. Sesuatu yang 
panas dan basah mengalir dari dahi ke pelipisnya. Ia merangkak keluar dari 
kolam dan berusaha untuk mendekati Hagrid yang tampak seperti gundukan 
hitam besar di atas tanah. 
“Hagrid? Hagrid, bicaralah padaku…” 
Tapi gundukan itu diam saja. 
“Siapa di sana? Apakah itu kau, Potter? Kaukah Harry Potter?” 
Harry tidak mengenali suara pria itu. Lalu terdengar suara teriakan 
seorang wanita, “Mereka menabrak, Ted! Mereka di kebun!” 
Kepala Harry basah. 

Harry Potter dan Relikui Kematian bab 4


Bab 4: The Seven  Potter (Tujuh Orang Potter)

Harry berlari kembali ke kamarnya, melihat mobil keluarga Dursley melalui
jendela kamarnya. Ia dapat melihat ujung topi Dedalus di antara kepala bibi
Petunia dan Dudley di kursi belakang. Mobil itu berbelok ke kanan di ujung
jalan Privet Drive, jendelanya memantulkan cahaya kemerahan dari matahari
yang mulai terbenam, lalu mobil itu tak tampak lagi.
Harry mengambil sangkar Hedwig, Firebolt, dan ranselnya. Untuk terakhir kali
ia melihat kamarnya yang, tidak seperti biasanya, terlihat rapi dan kembali ke
ruang tamu dengan rasa enggan. Lalu ia meletakkan sangkar, sapu, dan tasnya di
ujung tangga. Cahaya matahari di luar mulai menghilang membuat ruang tamu
dipenuhi engan bayangan di bawah terangnya malam. Rasanya aneh berdiri di
sana dalam diam dan tahu bahwa ia akan meninggalkan rumah itu untuk
selamanya. Dulu, ia sangat menikmati saat ditinggal keluarga Dursley sendirian
di rumah, suatu hal yang jarang terjadi. Mengenang saat mengambil sesuatu
yang enak di kulkas dan menikmatinya sambil memainkan komputer Dudley, atau
menonton televisi dan mengubah saluran sesuka hati. Hal ini membuatnya
merasakan suatu hal yang aneh saat ia mengingat saatsaat itu, seperti
mengenang saudara yang sudah tiada.

Harry Potter dan Relikui Kematian bab 3



Bab 3 The Dursleys Departing KEBERANGKATAN KELUARGA DURSLEY 


Suara pintu dibanting hingga bergema sampai terdengar ke lantai atas, dan 
terdengar suara teriakan, “Hei! Boy!” 
Sudah enam belas tahun ia terbiasa dipanggil seperti itu, sehingga Harry tahu 
siapa yang dipanggil. Tapi, ia tidak bergegas untuk menjawab. Ia masih tertegun 
melihat pecahan cermin, yang dalam beberapa detik yang lalu, ia berpikir telah 
melihat mata Dumbledore. Hingga pamannya berteriak, ‘BOY!’ yang membuat 
Harry berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya perlahan. Ia berhenti 
sebentar dan memasukkan pecahan cermin itu ke dalam ransel yang penuh 
dengan berbagai barang yang akan dibawanya. 
“Nikmati waktumu selagi bisa!” teriak Vernon Dursley saat melihat Harry 
muncul di puncak tangga. “Turun kemari. Aku ingin sebuah penjelasan!” 
Harry berjalan menuruni tangga, tangannya berada dalam saku celana 
jeansnya. Saat ia masuk ke ruang tamu, ia melihat keluarga Dursley sudah 
memakai pakaian bepergian mereka. Paman Vernon memakai jaket kulit 
rusanya, bibi Petuna memakai mantel berwarna salmonnya, dan Dudley, sepupu 
Harry yang besar, pirang, dan berotot, memakai jaket kulitnya. 
“Ya?” tanya Harry. 
“Duduk!” kata paman Vernon. Harry menaikkan alisnya. “Tolong!” tambah 
paman Vernon, sambil mengernyit, seakan kata yang ia ucapkan melukai 
tenggorokannya. 
Harry duduk. Sepertinya ia tahu apa yang akan terjadi. Pamannya mulai 
memutari ruangan, Bibi Petunia dan Dudley memperhatikannya dengan cemas. 
Akhirnya, dengan wajahnya yang besar dan ungu yang tengah berkonsentrasi, 
paman Vernon berhenti tepat di depan Harry dan ia mulai berbicara. 
“Aku berubah pikiran,” katanya. 

Harry Potter dan Relikui Kematian bab 2


Bab 2: In Memorandum (Kenangan)

Harry terluka. Ia menggenggam tangan kanannya dengan tangan kirinya, 
menyumpahnyumpah dalam bisikan. Ia membuka pintu kamar dengan bahunya. 
Terdengar suara pecahan perabot porselen, dan sebuah pecahan cangkir 
berisi teh dingin tergeletak di lantai depan pintu kamarnya. 
"Apa-apaan…?" 
Ia melihat sekelilingnya, rumah nomor empat, Privet Drive yang sepi. Sepertinya 
ide cangkir teh ini adalah salah satu ide jebakan terbaik dari Dudley. Menjaga 
agar tangannya yang terluka tetap terangkat, Harry mengambil semua pecahan
cangkir itu dengan tangannya yang lain, dan membuangnya ke tempat sampah di 
dekat pintu kamarnya. Lalu ia langsung ke kamar mandi untuk mencuci lukanya. 
Sungguh benar-benar bodoh dan membosankan, bahwa ia harus menghabiskan 
empat minggu menahan diri untuk tidak menggunakan sihir… tapi ia merasa 
bahwa luka di jarinya dapat memaksanya untuk melakukan sihir. Sayangnya ia 
tak pernah belajar bagaimana mengobati luka, dan sekarang ia mulai berpikir 
bagaimana cara melakukannya. Ia berencana untuk menanyakan caranya pada 
Hermione, Sekarang ia menggunakan banyak tisu untuk membersihkan 
tumpahan tehnya sebelum ia kembali ke kamar dan membanting pintu kamarnya. 
Harry menghabiskan pagi ini untuk mengosongkan koper yang selalu ia gunakan 
selama enam tahun terakhir. Pada tahun pertamanya, ia memenuhi kurang lebih 
tiga perempatnya lalu kadang mengganti atau menambahkan isinya tiap tahun, 
dan meninggalkan sisa-sisa di dasar koper – pena bulu lama, mata kumbang yang
telah mengering, dan kaus kaki yang sudah tidak cukup lagi. Beberapa menit 
sebelumnya, Harry memasukkan tangannya ke dalam tumpukan itu, dan 
menghasilkan rasa sakit yang luar biasa dan pendarahan di keempat jari tangan 
kanannya. 

Harry Potter dan Relikui Kematian bab 1




Bab 1: The Dark Lord Ascending (Bangkitnya Pangeran Kegelapan)

Dua orang itu muncul secara tiba-tiba, terpisah beberapa meter di sebuah 
jalan sempit yang diterangi oleh cahaya bulan. Sesaat mereka berdiri diam, 
tongkat masing-masing saling terarah ke dada yang lain. Setelah mengenali 
satu sama lain, mereka menyimpan tongkat masing-masing dibalik jubah dan 
mulai berjalan cepat ke arah yang sama. 
"Bagaimana?" tanya orang yang paling tinggi dari 
keduanya. "Sempurna," jawab Severus Snape. 
Jalan kecil itu dikelilingi oleh semak liar yang rendah disebelah kiri, pagar 
tanaman yg tinggi dan terawat disebelah kanan. Jubah panjang mereka 
berkibar selagi mereka berjalan bersama. 

Lokasi Kematian Snape Dalam Deathly Hallows II Diubah




Andrew Ackland-Snow, direktur seni film Harry Potter, mengungkapkan dalam edisi November 2010 majalah Cine Premiere Mexico bahwa lokasi kematian Severus Snape dalam Harry Potter and the Deathly Hallows: Part II telah diubah, dengan persetujuan dari J.K. Rowling. Kutipan dari artikel tersebut dapat dilihat dibawah ini...

Perhatikan bahwa dalam buku, Snape dibunuh oleh ular Nagini atas perintah Voldemort di Shrieking Shack.

Minggu, 16 Januari 2011

Peri Rumah

Peri Rumah adalah makhluk gaib fiksi dalam seri Harry Potter karya J. K. Rowling. Peri Rumah memiliki bentuk seperti manusia kecil –walaupun jelas terlihat berbeda dari manusia– yang menghabiskan hidup mereka untuk melayani sebuah keluarga, institusi, dan lain-lain. Kecuali mereka dibebaskan, keturunan mereka akan melanjutkan tugas-tugas mereka. Berbeda dengan seorang budak, Peri Rumah betul-betul bahagia dalam perbudakan mereka dan hampir seluruhnya beranggapan bahwa bila mereka sampai dibebaskan, itu adalah kenistaan besar. Ras ini tidak memiliki kebudayaan sendiri dan keberadaan mereka hanya untuk melayani. Memiliki Peri Rumah merupakan simbol status dari seseorang atau suatu keluarga, sementara sikap pengabdian yang sedemikian dalam menyebabkan Peri Rumah dianggap sebagai warga kelas dua di dunia sihir.

Karakteristik

Peri Rumah memiliki tubuh yang kecil (hanya sekitar 60-90cm tingginya), dengan tangan-kaki yang panjang lurus, serta kepala dan mata yang terlalu besar. Mereka biasa menyebut diri sendirinya dengan kata ganti orang ketiga dan berbicara seperti anak kecil. Nama-nama mereka biasanya mirip seperti nama binatang peliharaan (Dobby, Winky, Hokey); dan tampaknya tidak memiliki nama keluarga.
Seorang Peri Rumah terikat pada rumah keluarga tertentu; namun belum terlalu jelas apakah mereka memilih untuk mendiami suatu rumah dan melayani orang-orang yang tinggal di dalamnya, atau apakah mereka terikat dengan suatu cara kepada suatu keluarga. Ron Weasley berkomentar bahwa ia berharap agar keluarganya cukup kaya untuk dapat memiliki seorang Peri Rumah, sehingga secara tersirat kemungkinan bahwa Peri Rumah adalah satu paket dengan suatu rumah (analoginya dalam dunia non-sihir mungkin seperti perabot rumah yang sudah ikut diberikan bersama dengan rumah yang dibeli). Pada awal kisah Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran juga memperkuat hal ini. Harry melakukan tes apakah ia benar-benar pemilik yang sah dari Grimmauld Place dengan cara melihat apakah si Peri Rumah, Kreacher akan menuruti perintahnya. Tes ini berhasil dan memperlihatkan bahwa Peri Rumah memang terikat kepada rumah yang dilayaninya. Namun demikian, dalam Harry Potter dan Piala Api, seorang Peri Rumah yang telah dibebaskan mencari keluarga yang baik, sehingga mengisyaratkan bahwa Peri Rumah itu terikat kepada suatu keluarga, bukan kepada rumahnya. Memang bergenerasi-generasi Peri Rumah dikisahkan melayani suatu keluarga, tetapi hal ini mungkin dikarenakan generasi demi generasi keluarga tersebut juga tinggal di rumah yang sama.
Peri Rumah hidup dalam situasi yang menyedihkan. Mereka gigih, bersifat patuh secara alami, dan sering digertak, dicaci maki, bahkan disiksa. Keluarga-keluarga penyihir hitam tampaknya memiliki kebiasaan mengasari dan menganiaya Peri Rumah mereka. Keluarga Malfoy memaksa Peri Rumah mereka, Dobby, untuk menjepit telinganya sendiri di oven atau menyetrika tangannya jika ia tidak mematuhi perintah mereka. Keluarga Black memenggal kepala Peri Rumah mereka bila sudah tua dan memajangnya di dinding rumah mereka.

Jumat, 14 Januari 2011

Gellert Grindelwald




"Untuk Greater Good."
-Gellert Grindelwald slogan. 
Gellert Grindelwald (c. 1883 - 1998 ) dianggap salah satu yang paling berbahaya Wizards Dark sepanjang masa, kedua hanya untukTom Riddle , yang kemudian dikenal sebagai Lord Voldemort. Ia dididik di Durmstrang Institute dan kemudian mengambil sebuah persahabatan dengan Albus Dumbledore ketika ia tinggal di Godric's Hollow untuk musim panas berikut pengusiran nya. Kedua membuat rencana untuk menemukan Relikui Kematian dan menciptakan dunia di mana Muggle akan tunduk kepada penyihir dan penyihir .Kemitraan ini berantakan setelah dua terlibat dalam arah duel tiga dengan Aberforth Dumbledore yang menyebabkan Ariana Dumbledore kematian '. Grindelwald meninggalkan Inggris dan segera mencuri Tongkat Elder , membangun tentara dan naik ke kekuasaan di benua Eropa . Selama nya pemerintahan teror , dia membunuh banyak penyihir dan Muggle. Pada tahun 1945 , pada puncak kekuasaannya, teman mantan Dumbledore dihadapkan dia karena teriakan publik dan mengalahkan dia dalam apa yang menjadi legendaris duel . Grindelwald kemudian dipenjarakan di penjara sendiri Nurmengard selama beberapa dekade. Dia dibunuh di sana oleh Lord Voldemort pada 1998 , ketika Voldemort adalah untuk mencari Tongkat Elder , yang Grindelwald menolak memberikan informasi apapun tentang.

Biografi 

Kehidupan awal 

Gellert Grindelwald berpose untuk nyaDurmstrang potret sekolah.
Gellert Grindelwald lahir sekitar 1883 , mungkin di Tengah atau Eropa Timur, meskipun Skandinavia juga possiblity sebuah. Ia dididik di sekolah sihir Durmstrang Institute , dan sebagai mahasiswa, dia membuktikan dirinya sebagai precociously brilian sebagai Albus Dumbledore . Namun, ia tidak menggunakan bakatnya untuk memenangkan penghargaan dan hadiah, dan bukannya ditujukan untuk bereksperimen dengan Ilmu Hitam . percobaan-Nya menjadi memutar ke titik hampir membunuh beberapa teman-temannya, dan ia diusir pada usia enam belas tahun. Dia sangat tertarik pada Relikui Kematian , bahkan menggunakan Hallows 'simbol sebagai sendiri dan ukiran pada dinding Durmstrang sebelum keberangkatannya. Penelitiannya membawanya untuk tinggal dengan-Nya bibi besar, Bathilda Bagshot , di Godric's Hollow , Inggris , di mana Ignotus Peverell , dikatakan penjaga sah Death's Jubah Gaib , telah diletakkan untuk beristirahat.

Persahabatan 

Gellert Grindelwald dengan temannya Albus Dumbledore .
Saat itu di Godric's Hollow yang Grindelwald bertemu dan berteman Albus Dumbledore , seorang penyihir muda berbakat dan cemerlang seperti dia. Kedua anak remaja menjadi dipersatukan oleh ambisi mereka untuk kemuliaan, berencana untuk membawa tentang "sebuah tatanan dunia baru" di mana penyihirakan menguasai Muggle , dan berbagi semangat mereka untuk Relikui Kematian .Mereka menciptakan istilah yang akan menjadi's slogan Grindelwald dan justifikasi untuk melakukan kejahatan mengerikan terhadap orang-orang yang menentang dia: "Untuk Good Raya." [4] Dua menjadi sangat dekat, bahkan sampai tarik-menarik romantis di adalah bagian Dumbledore  . Pada titik tertentu, Grindelwald menyadari sahabat daya tarik dan menggunakannya untuk keuntungannya, memanipulasi anak yang lain ke dalam membantu dia tanpa bertanya dalam rencana-Nya 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...